Rabu, 01 September 2010

Pahlawannya siapa?

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya", pesan indah nan kuat dari bung Karno untuk dunia. Pahlawan adalah orang yang mempertaruhkan baik harta maupun nyawa untuk sesuatu yang dia cintai, kalau dihubungkan dengan pesan bung Karno tersebut, bagi saya sesuatu yang harus dicintai adalah ibu pertiwi kita, Indonesia.

 
Digusur, Pejuang Ilyas Karim Tagih Janji Foke dan SBY
Shohib Masykur - detikNews

(Foto: Shohib/detikcom)
Jakarta - Ada nada geram pada suara Ilyas ketika menyinggung nama Gubernur DKI Fauzi Bowo alias Foke. Sebab, dengan telinga sendiri Ilyas mendengar Foke berkampanye di lapangan Rawajati di dekat rumahnya. Waktu itu Foke mengatakan kalau dirinya menang akan memperhatikan nasib rakyat kecil.
"Tolonglah bantu saya. Kalau dibantu saya akan bantu rakyat kecil," kata Ilyas menirukan suara Foke ketika kampanye di Lapangan Rawajati menjelang pemilihan Gubernur DKI 2007.

Betapa pedih hati Ilyas saat tahu bahwa orang yang mengeluarkan janji itu justru adalah orang yang membuat kebijakan untuk mengusirnya dari rumah yang telah ditanggalinya selama 23 tahun. Ilyas diberi waktu hingga akhir 2008 untuk menempati rumah kecilnya di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah itu, Ilyas harus pergi, entah kemana.

"Pesan saya untuk Fauzi Bowo, tepatilah janji kamu," kata Ilyas dengan nada agak berapi-api saat ditemui detikcom, Selasa (12/8/2008).

Pesan serupa dia kumandangkan untuk SBY. Menurut Ilyas, dulu menjelang Pemilu Presiden 2004 SBY pernah menemuinya. SBY meminta Ilyas membantunya berkampanye dengan memanfaatkan jaringannya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di 14 provinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Waktu itu SBY berjanji akan memperhatikan nasib para pejuang jika dia menjadi presiden.

"Dia mengatakan akan memperhatikan nasib para pejuang," kata Ilyas yang merupakan pengibar pertama bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 lalu.

Namun betapa kecewanya Ilyas ketika janji yang telah dikeluarkan SBY tidak ditepati. Dia bersama teman-teman seperjuangannya tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Satu-satunya perhatian nyata barangkali adalah jatah uang pensiunan sebesar Rp 1,5 juta yang rutin diterimanya tiap bulan. Selain itu, nihil.

"Pejabat pemerintah tidak perhatian sama sekali kepada kami para pejuang," keluh Ilyas.

Ketika ditanya mengapa tidak mengajukan permohonan ke pemerintah, Ilyas hanya menjawab, "Pemerintah otaknya otak batu. Gimana mau ngajukan? Percuma saja."(sho/asy)

Seandainya para pejuang - pejuang yang telah gugur mendahului kita melihat kondisi sahabat seperjuangannya yang lebih beruntung hidup di masa ini, apakah mereka masih mau berjuang untuk negara ini?. Masihkah mereka memerdekakan "budak - budak dunia" yang pada akhirnya menyiksa sahabat - sahabat seperjuangannya?.

==================================================
Katakan kepadaku wahai pejuangku...

Apakah engkau rela melihat kawan kawanmu diinjak - injak oleh orang yang kau perjuangkan agar bisa berdiri sendiri di atas kakinya sendiri?

Apakah engkau tidak ragu melepaskan negara ini dari penjajah, seandainya engkau tahu, penjajah berikutnya adalah lebih kejam dari penjajah di masamu, dan kau tidak bisa berbuat apa - apa karena di antara mereka ada yang menjadi keturunanmu?

Apakah engkau tidak menangis menderu ketika melihat bangsa ini begitu memperhatikan bangunan bangunan menjulang tinggi, sementara mereka merobohkan bangunan bangunan lama tempat kawan - kawanmu menghabiskan masa tuanya?

Apakah engkau tidak menyesal ketika engkau melihat bendera bangsa merahnya berlumuran darah - darahmu dan kawan - kawanmu, sementara putihnya dijadikan alas kaki oleh anak - anak cucumu?

Katakan kepadaku....wahai pejuangku...
==================================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar