Rabu, 01 September 2010

2R, Realisasi dan Realistis

Manusia pasti mempunyai cita - cita, keinginan, tujuan atau apapun yang ada di depannya. Semua orang berjuang dengan berbagai cara untuk mencapai tujuannya (baca : realisasi). Akan tetapi tak jarang pula, sebagian dari mereka menghalalkan segala cara untuk mencapainya, contohlah satu kalimat yang sering didengar semua kalangan masyarakat, korupsi.

Terkadang ketika seseorang pada perjalanan takdirnya (untuk) mengejar tujuan atau cita - citanya, sadar kalau cita - citanya terlalu tinggi atau tujuannya sulit untuk dijangkau. Inilah yang dinamakan realistis. Tetapi, tak jarang juga disaat belum sedikitpun melangkah, dia sudah melakukan apa yang dinamakan mutung realistis (kolot).
Realisasi dan realistis, 2 kata yang cukup berlawanan sebenarnya. Kata realisasi merujuk pada perjuangan, sementara kata realistis merujuk pada sadar akan situasi. Dua kata ini seringkali mengiringi seseorang dalam mengejar impiannya. Ketika seseorang terlalu condong pada kata realisasi ketimbang realistis, maka kemungkinan besar cara - cara yang dipakai untuk mencapai tujuan menjurus ke arah tindakan yang berbahaya, bagi dirinya sendiri maupun orang lain terutama di sekitarnya. Begitu pula kebalikannya, ketika seseorang lebih condong pada kata realistis daripada kata realisasi, maka kemungkinan besar akan mengalami yang namanya putus asa.

Menurut hemat (ceile, hemat) yang saya punya, ada kalanya ketika seseorang berjuang me-realisasi-kan tujuannya, setiap tindakan yang dia ambil harus selalu di-review, dan ada saat dimana dengan alasan apapun ketika jalan yang diambil, terdapat batasan - batasan yang mungkin berasal dari dalam diri sendiri. Pada saat inilah ia melakukan kata sifat bernama realistis.

Satu pertanyaan yang tersirat, apakah realistis berarti berhenti merealisasikan? jawabannya adalah

BELUM TENTU!!

Belum tentu jalan yang harus ditempuh setelah ada ke-realistis-an adalah jalan berupa mutung / berhenti / putus asa. Bisa saja ia mencari jalan lain dan tentunya jalan tersebut diperoleh setelah me-review kesalahan pada langkah sebelumnya.

Seperti kata pepatah, "Banyak jalan menuju Roma". Akan tetapi, pelogikaan invers-nya "Banyak jalan pula untuk TIDAK menuju ke Roma". Terkadang seseorang perlu berjuang dengan nyali tinggi, tetapi terkadang pula kemenangan bisa didapatkan ketika kita menyerah.

 ~ thinking smart doesn't always mean the fastest thinking ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar