Di suatu sore di dalam KRL (kereta api listrik), berpuluh puluh manusia diletakkan di dalam satu atap kereta sebagaimana ternak yang siap akan dibawa ke penjagalan. Sepasang mata memandang ibu (yang memiliki usia cukup terbilang muda) yang menggendong anak-balitanya dan menggandeng seorang putra masuk ke dalam KRL.
Tampak seorang ibu yang begitu setia menghadapi sesaknya KRL namun tak membuatnya berhenti untuk menaiki kendaraan masal tersebut. Ibu itu berhenti di depan seorang remaja ALAY [1] yang sedang asyik bermain BlackBerry sebagaimana kegemaran remaja - remaja on fashion lainnya.