Minggu, 12 Desember 2010

Remaja Ber-BlackBerry Itu

Di suatu sore di dalam KRL (kereta api listrik), berpuluh puluh manusia diletakkan di dalam satu atap kereta sebagaimana ternak yang siap akan dibawa ke penjagalan. Sepasang mata memandang ibu (yang memiliki usia cukup terbilang muda) yang menggendong anak-balitanya dan menggandeng seorang putra masuk ke dalam KRL.

Tampak seorang ibu yang begitu setia menghadapi sesaknya KRL namun tak membuatnya berhenti untuk menaiki kendaraan masal tersebut. Ibu itu berhenti di depan seorang remaja ALAY [1] yang sedang asyik bermain BlackBerry sebagaimana kegemaran remaja - remaja on fashion lainnya.

"Ibu", helanya secara perlahan kepada ibu itu. Sambil meneruskan perkataannya dan tersenyum, remaja itu berkata "duduk disini aja bu....". Seorang ibu yang kepayahan menghadapi sesaknya KRL itupun menduduki kursi yang sudah menjadi hak istimewanya. Dan pemuda itupun berdiri sambil meneruskan melakukan sesuatu di BlackBerry-nya.

Penasaran dengan remaja itu, sepasang mata melihat remaja ALAY tersebut dari ujung kaki sampai ujung rambut. Celana jins berlubang di dengkul, sepatu converse, kalung berhelai - helai, gelang sepanjang tangan, dan BlackBerry di tangan menghiasi perjalanan sepasang mata itu. Sepasang mata itupun melihat remaja itu masih asyik dengan aplikasi facebook di BlackBerry pemuda itu.

Di dalam hati sepasang mata tersebut, seandainya remaja itu dilihatnya tanpa melakukan sesuatu apapun, dia terlihat sebagaimana remaja - remaja labil yang ingin eksis dengan bergaya retro masa kini alias ALAY. Tapi sepasang mata itu justru berdecak kagum tentang betapa mudahnya remaja itu membantu sesamanya tanpa mengindahkan kaidah kaidah keeksisan menurut remaja itu sendiri. Dia memberikan kursi pada ibu tersebut tanpa melepas sepatunya, tanpa melepas kalungnya yang berhelai - helai, tanpa melepas gelangnya yang menjalar di tangannya, dan bahkan tanpa melepas BlackBerry nya sedetikpun.
Betapa mudahnya telunjuk itu bertingkah, dan disini aku berteriak "YANG KAU TUNJUK ITU MASIH HIDUP!" lalu kuteruskan dengan lantang "AKU YANG AKAN MEMBELANYA!".
REFERENSI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar